Potret Kota Malam
(Tentang hujan yang turun semalaman. ia tuliskan sebisanya)
Detak waktu. jalanan berair yang bercakap dengan bulan lembab ialah sunyi lorong juga tiang. ia lihat pengemis bau tanah tak bertudung dikunyahnya pahit sepotong mimpi. seraya (mungkin) mengeja cinta pada kampung entah di mana. ia lihat dua pengamen kecil dengan kulele dan tamborin. lagunya gigil serta daun-daun hanyut, “di sana tanah air beta dibuai dibesarkan bunda..” kemudian mereka guncang simpang dan trafficlight hingga serak segala harapan. hingga putus tali-tali penantian
(Tentang kata-kata yang ia tulis semalaman. hujan turun jadi puisi)
Malam kian pucat. yang terdengar hanya rintih atau mungkin lirih ia lihat wanita dengan gincu ungu. parfumnya menyengat ujung gang lagu-lagu dangdut dan lelaki yang tergoda. membaur di ranjang murahan “selamat malam duhai kekasih...” ia lihat tiga empat anak muda mabuk. bercerita perihal kursi, tong sampah serta pencuri kertas. kemudian saling tinju dan memaki kemudian muntah sempurna dikala hari mulai berganti pagi
(Tentang potret kota malam. ia tuliskan sebisanya)
Payakumbuh, Desember 2012 Sumber http://www.sepenuhnya.com/