Percintaan Hulu dan Muara
Jangan pernah kamu ragukan. ini bukan sajak terakhirku, kekasih sebagaimana hulu. dia selalu menyimpan rindu pada muara sebuah pertemuan yang tak pernah. hanya tumpukan dari gelisah kemudian desir air. potongan-potongan ranting yang tersangkut “sampaikan salam pada muara. saya hulu yang berkabung rindu!” demikianlah senantiasa dia nyanyikan di senja-senja lembab juga taring waktu yang runcing
Kisah apa yang tak kuceritakan kepadamu. meski parasmu samar dan saya hanya melukismu di tebing-tebing batu kubayangkan seekor angsa putih membasuh paruhnya di tepi sungai ikan-ikan menggoda. hari begitu saja menjadi penjadi petang “bukan. saya hanya akar bau tanah yang lapuk direndam musim!” bergotong-royong bunyi yang tak ingin kudengar. kamu akan berlari di antara ilalang dan batang-batang
Sajak ini akan terus kukirim untukmu, kekasih meski ceritanya selalu saja wacana perih.
Puisi: Percintaan Hulu dan Muara Sumber http://www.sepenuhnya.com/