Boneka
Pada matanya yang berdebu kulihat seorang lelaki menuju malam. langkahnya ibarat pertempuran yang kalah. di pundaknya cuaca terus menanam demam dan di samping kota, ada yang setia menyapa "selamat malam waktu, ke ujung sana gelap makin rendah tidakkah kamu membawa lentera?" tetapi lelaki itu ibarat terus menjumlah sesuatu
Pada warna yang mulai pudar kulihat seorang wanita tak dapat lagi menangis. wajahnya ibarat derai cermin pecah. mengusung mimpi yang terbuhul dan pada bulan yang genit, beliau selalu berkata "pernahkah yang kuasa jatuh cinta?" tapi jawabnya selalu cahaya yang lenyap tiba-tiba
di kamar itu. sepasang boneka putih dan ungu berciuman melawan waktu.
Payakumbuh, Desember 2002 Sumber http://www.sepenuhnya.com/