Taman Itu Tak Pernah Ada
Bertahun telah kuciumi kesedihanmu serekah warna mawar, senantiasa saya bagai bocah dusun cemas kehilangan capung-capung, hari lepas tak tertangkap, menjadi cakrawala setiap pagi dan senja engkau tangiskan derita berharap saya akan membangun taman, dan menyelipkan sehelai kasih di rambutmu “senyum kunang-kunang dulu bernyanyi wacana gerimis, masihkah engkau menyimpannya?” tetapi jejak demi jejak retak kau pernah membiarkanku jatuh di ujung gamang bayang
Sejarah memang makin tua, matahari ringkih dan sisa geliat serta pakaianmu yang tertinggal telah kulipat ke dalam subuh yang lamban, hanyut ditelan bulan “setiap hari ciuman kutinggalkan di sini, sekarang kujemput ia sebagai cermin!” tapi taman itu tak pernah ada dan waktu terlanjur memahatku jadi batu.
Payakumbuh
Puisi: Taman Itu Tak Pernah Ada Sumber http://www.sepenuhnya.com/