Mak, 360 Hari Kepergianmu
Mak hingga juga waktu menjemput di penghujung ramadhan - subuh yang bening melepas kamu pulang walau getir terasa menusuk-nusuk antar kepergianmu dengan zikir dan doa.
Mak hingga juga waktu menjemput Tuhan sudah tentukan - siapapun menunggu giliran. Yang paling nyeri - kurindu dikala pakaian kebesaran lengket di badan berkat ikat pinggang pemberianmu. Diam-diam engkau menghadap-Nya saya belum sempat menunjukkan ini jiwa - menghargai sakitnya air susu yang kamu berikan - yang lebih teriris pedih - saya tak bersama menjalankan tradisi mengenangmu (kutumpahkan senyum walau gerimis tempias ke pipi).
Solo, 2006
Puisi: Mak, 360 Hari Kepergianmu Sumber http://www.sepenuhnya.com/